Stress Oksidatif, Radikal Bebas, dan Antioksidan

Share

Stress Oksidatif (Oxidative Stress)
Stress oksidatif adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan oksidatif dalam sel, jaringan atau organ tubuh. Kerusakan ini dapat disebabkan oleh molekul yang disebut spesies oksigen reaktif (reactive oxygen species, ROS). Spesies oksigen reaktif termasuk partikel-partikel yang disebut radikal bebas.

Radikal Bebas (Free Radical)
Radikal bebas adalah suatu molekul dengan satu atau lebih elektron terluar atomnya tidak memiliki pasangan. Jika elektron terluar suatu atom dalam molekul tidak memiliki pasangan, maka molekul tersebut akan sangat aktif untuk mencari pasangan elektron terluar atom tersebut. Molekul ini menjadi sangat aktif untuk bereaksi untuk merampas elektron dari sel-sel tubuh. Molekul radikal bebas ini dapat merusak sel-sel tubuh dan berperan penting terhadapĀ  timbulnya berbagai penyakit dan gangguan kesehatan. Karena tubuh kita terus menerus terkena radikal bebas dari sumber eksternal (dari luar tubuh) seperti sinar matahari, radiasi, polusi, dan toksin (racun), ia bisa menjadi jalan masuk bagi berbagai penyakit.

Antioksidan (antioxidant)
Untuk melawan kerusakan akibat radikal bebas, tubuh mengandalkan antioksidan. Antioksidan adalah senyawa yang mencegah kerusakan oksidatif dengan menjinakkan radikal bebas. Antioksidan menjinakkan radikal bebas yang aktif dengan cara menyediakan pasangan elektron terluar atom radikal bebas sehingga molekul tersebut menjadi stabil. Antioksidan diperoleh tubuh dari nutrien (zat makanan) dan unsur-unsur esensial dalam makanan. Beberapa jenis antioksidan berupa molekul seperti vitamin C, vitamin E, selenium, seng, dsb. Ada juga antioksidan berupa enzim seperti superoksida dismutase, katalase, dan glutathione. Glutathione dikenal sebagai master antioksidan yang tersusun dari kombinasi 3 asam amino sederhana – cystine, glycine, dan glutamine.